Suku Asmat Yang Berasal dari Papua, Sejarah, Upacara, Tarian, Rumah & Adat Istiadat

Feb 10, 2021 by admin
Suku-Asmat-Yang-Berasal-dari-Papua,-Sejarah,-Upacara,-Tarian,-Rumah-&-Adat-Istiadat

Sejarah Suku Asmat

Suku Asmat adalah salah satu suku di Papua. Kita sudah mengenal salah satu suku yang tinggal di Indonesia bagian timur. Sebagai suku yang paling populer di Papua tentunya menarik dan berbeda dengan suku lain yang ada di Indonesia.

 

Suku-Asmat-Yang-Berasal-dari-Papua,-Sejarah,-Upacara,-Tarian,-Rumah-&-Adat-Istiadat

Suku Asmat juga memiliki populasi terbesar di Papua. Suku Asmat bisa kita jumpai baik di pedalaman maupun di pantai. Budaya merupakan cermin kehidupan suatu masyarakat.

Begitu juga dengan suku Asmat yang memiliki budaya yang melambangkan kehidupan mereka. Bagi mereka, kebudayaan bukan hanya turun-temurun, tetapi lebih dari itu sebagai pola dan tujuan besar yang tersimpan di dalamnya.

Upacara adat suku Asmat

1. Ritual kematian

Orang Asmat memiliki pemikiran unik tentang kematian. Alasannya, mereka menganggap kematian itu tidak wajar. Kematian didefinisikan sebagai keberadaan roh jahat yang mengganggu almarhum. Jika saudara mereka sakit, mereka membuat pagar dari batang pohon palem.

Pagar itu dirancang agar roh-roh jahat yang berkeliaran di sekitarnya tidak bisa mendekati orang yang sakit itu lagi. Mereka juga akan berkerumun di sekitar orang yang sakit tanpa merawat atau memberi makan mereka. Namun, ketika orang yang sakit meninggal, mereka merangkak untuk memeluk dan berguling keluar dari tubuh di lumpur.

2. Upacara Mbismbu (membuat pilar)

Mbismbu adalah sejenis patung pahatan tonggak sejarah leluhur atau kerabat mereka yang telah meninggal. Upacara sakral ini memiliki arti sebagai pengingat akan sanak saudara mereka yang telah meninggal dunia dan dibunuh. Kerabat harus segera membalas dendam atas kematian tersebut dengan membunuh pelakunya.

3. Upacara Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan rumah lesung)

Upacara pembuatan dan peresmian rumah lesung ini berlangsung setiap 5 tahun sekali. Perahu nantinya akan dicat merah, di luar putih berselang-seling dan di dalam putih. Perahu itu juga diukir dengan gambar keluarga yang meninggal atau bisa juga gambar binatang dll.

Setelah dicat, perahu dihias dengan sagu. Sebelum memakainya, keluarga berkumpul di rumah orang paling berpengaruh di desa. Biasanya kepala suku atau kepala suku mereka biasanya. Ini adalah bentuk perayaan dengan lagu-lagu yang diiringi oleh Tifa.

4. Upacara yentpokmbu (ritual membuat rumah yew atau rumah tunggal)

Rumah individu suku Asmat dinamai sesuai marga pemiliknya. Rumah tunggal ini digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan dan non-agama. Rumah ini juga digunakan untuk perayaan keluarga. Namun, dalam keadaan tertentu, seperti penyerangan, anak-anak dan wanita tidak diperbolehkan masuk.
Tari Asmat dan alat musik

Tarian Tobe merupakan salah satu tarian khas Asmat yang disebut juga sebagai tarian perang. Tarian tobe jenis ini memang merupakan tarian yang dibawakan pada saat kepala suku diperintahkan untuk bertarung.

Seiring dengan perkembangannya, tarian ini digunakan untuk menyambut tamu sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu yang datang. Tarian Tobe dipadukan dengan lagu-lagu yang membakar pikiran dengan diiringi alat musik tifa.

Penari memakai manik-manik dada, rok yang terbuat dari akar bahar, dan daun yang diselipkan di tubuh mereka. Ini melambangkan bahwa suku Asmat sangat dekat dengan alam.
Rumah Pabean

Sebagai suku yang tinggal di pedalaman dan di pantai, suku Asmat memiliki rumah adat bernama Jeu. Rumah Jeus memiliki panjang 25 meter. Selain itu, banyak warga suku yang membangun rumah di atas pohon.
inci

1. Kehamilan

Suku Asmat sangat peduli dengan kehamilan wanita di tengah keluarga. Mereka merawat ibu hamil dengan baik sampai proses persalinan selesai dengan selamat.

Kelahiran ke-2

Setelah proses persalinan selesai, pihak keluarga akan mengadakan hajatan dimana tali pusat akan dipotong dengan ngengat. Sembilu yang digunakan untuk memotong terbuat dari bambu yang direntangkan. Untuk perkembangannya, bayi disusui oleh ibunya selama 2-3 tahun.

3. pernikahan

Pernikahan dimulai saat Anda berusia 17 tahun atau lebih. Tentu saja ini sudah mendapat kesepakatan dari kedua belah pihak. Selain itu, ada tes ibu oleh laki-laki untuk membeli perempuan dengan piring antik yang nilainya disesuaikan dengan interpretasi harga perahu Johnson.

Kematian keempat

Pengecualian untuk perawatan almarhum berlaku untuk kepala suku biasa. Kepala suku yang meninggal atau kepala suku biasa dimumikan dan dipajang di depan joglo suku Asmat.

Baca Juga: